Oleh : Yudha Saputra ~ Aktivis PRD
Mahasiswa sejak dahulu dikenal sebagai kekuatan moral dan intelektual yang mampu menjadi penggerak perubahan sosial.
Sejarah bangsa ini mencatat bagaimana peran mahasiswa tidak hanya hadir sebagai pengkritik kebijakan, tetapi juga sebagai jembatan yang menghubungkan aspirasi masyarakat dengan arah pembangunan yang lebih baik.
Namun di tengah dinamika zaman yang semakin kompleks, mahasiswa dihadapkan pada tantangan baru berupa polarisasi, provokasi, dan kepentingan-kepentingan yang berpotensi memecah persatuan gerakan.
Sudah saatnya mahasiswa berbenah. Energi, idealisme, dan semangat juang yang dimiliki harus diarahkan pada upaya membangun solidaritas, bukan mempertajam perbedaan.
Perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dalam ruang akademik, tetapi tidak boleh berubah menjadi permusuhan yang menggerus substansi perjuangan itu sendiri.
Mahasiswa harus mampu merangkul satu sama lain, memperkuat komunikasi, dan membangun budaya diskusi yang sehat serta berlandaskan argumentasi ilmiah.
Provokasi, baik yang datang dari luar maupun dari dalam lingkungan gerakan mahasiswa, harus disikapi secara dewasa dan kritis.
Mahasiswa dituntut untuk tidak mudah terjebak dalam narasi yang memecah belah atau kepentingan sesaat yang mengaburkan tujuan utama perjuangan.
Sebab, ketika mahasiswa sibuk berkonflik satu sama lain, persoalan-persoalan masyarakat yang sesungguhnya membutuhkan perhatian justru terabaikan.
Kembali menjadi agent of change bukan sekadar slogan yang diucapkan dalam forum-forum akademik.
Peran tersebut harus diwujudkan melalui tindakan nyata, mulai dari mengawal kebijakan publik, menyuarakan kepentingan rakyat, hingga menghadirkan solusi atas berbagai persoalan sosial yang terjadi.
Mahasiswa harus hadir sebagai kelompok yang menawarkan gagasan, bukan hanya kemarahan; menghadirkan solusi, bukan sekadar kritik.
Momentum ini menjadi pengingat bahwa kekuatan mahasiswa terletak pada persatuan, intelektualitas, dan integritas moralnya. Ketika mahasiswa mampu berdiri bersama, menjaga independensi, dan tetap berpihak kepada kepentingan masyarakat, maka fungsi historisnya sebagai agen perubahan akan kembali menemukan relevansinya.
Kini saatnya mahasiswa meneguhkan kembali jati dirinya. Merangkul, bukan memukul. Mengedukasi, bukan memprovokasi. Bersatu, bukan terpecah. Sebab perubahan besar tidak lahir dari perpecahan, melainkan dari keberanian untuk berjalan bersama demi masa depan yang lebih baik.